| TEOLOGI FILANTROFI |
|
|
|
| Ditulis oleh Welhendri - LP2M | |
| Jumat, 14 Juli 2006 | |
|
Persaudaraan yang baik tanpa fanatisme dan penyelewengan adalah wujud hakiki dalam kehidupan manusia yang mulia. Persaudaraan terbaik berorientasi pada pembangunan dasar peradaban, mendorong solidaritas sesama umat, mengikat hubungan sosial berdasarkan kecintaan. Tuntunan persaudaraan adalah belas kasihan dan tolong menolong dalam aktivitas yang dibenarkan, baik secara aktif maupun pasif dalam meniti jalan untuk perbaikan dan kemajuan manusia. Karena itu arti terpenting dalam persaudaraan adalah jaminan sosial antara sesama manusia. Esensi filantropi pada prinsipnya adalah pembicaraan tentang persaudaraan terbaik itu, maka membicarakan filantropi pada substansinya merupakan perbincangan tentang hakikat kehidupan manusia. Setidaknya itulah yang di tangkap dalam semangat filantropi. KPMM sendiri dengan jelas menuliskan tujuan umum filantropinya yaitu "mengelola dan memanfaatkan dana-dana sosial untuk pemberdayaan masyarakat dalam upaya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Artinya bahwa kehidupan manusia menjadi baik apabila telah terwujud kesejahteraannya dan keadilan sosial. Secara teologi, perlu kehati-hatian dalam memahami dan internalisasi tujuan filantropi tersebut; pertama, secara filosofis filantropi bersumber pada ideologi humanities yang mengagungkan dan menjunjung tinggi kedudukan manusia. Jika sumber rasa kemanusiaan tersebut tidak diiringi dengan keyakinan religius akan bermuara pada sekularisme dan menampik sisi spritualitas manusia. Kedua, filantropi menyangkut kegunaan, faedah dan manfaat terluas dari tujuan kedermawanan, karena itu ia amat memperhatikan akibat dan bukan hakikat perbuatan kedermawanan. Jebakan psikologis manfaat tanpa mempertimbangkan asal dana dan siapa yang berderma, atas nama kesejahteraan masyarakat, seseorang dapat saja melanggar hak asasi manusia seperti hak milik maupun tanpa mempertimbangkan apa nilai-nilai dan perilaku seseorang sebelumnya. Karena perlu transparansi asal dana serta niat seseorang yang jelas baiknya. Kejelasan niat seseorang merupakan persoalan dasar dalam ajaran agama, khususnya agama Islam. Hal itu menyangkut teori kebenaran tindakan (amal) seseorang sehingga diridhai Allah swt. Sebuah hadis menjelaskan "sesungguhnya sahnya amal tergantung niat. Setiap orang tergantung apa yang diniatkan….". Banyak orang menyangka bahwa dia telah berbuat baik dan menduga apa yang dilakukannya sudah benar dan ideal, namum dalam realitanya ia menyimpang oleh motivasi yang beragam dan untuk survive. Berlaku benar menjadi sangat sulit apalagi diarahkan untuk meraih kepercayaan publik, orang akan percaya hanya jika kita terus berlaku benar dan berbuat kebenaran. NGO's Penggerak Filantropi Agama mengajarkan untuk berlaku benar sekalipun itu pahit, pahit karena kebenaran akan berhadapan dengan kecenderungan "khilaf/ nyeleweng" dalam diri manusia dan sistem yang terbangun. Standar sebuah kebenaran mengacu pada standar yang disepakati bersama masyarakat dan nilai agama. Berlaku benar untuk mendapatkan kepercayaan publik di kalangan NGO's sedikit lebih berat, karena beberapa sebab berikut: (1) Masih "gelap" wajah NGO's di mata publik khususnya dalam pengelolaan dana-dana sosial dan bahwa pengorganisasian masyarakat tidak sama dengan pengorganisasian dana. (2) Kebanyakan NGO's belum mandiri dari sektor keuangan sehingga rawan penyelewengan dana publik untuk kepentingan sendiri. Di tambah belum tuntasnya debat tentang "saving" di kalangan NGO's. (3) Status sebagai pemain baru, sehingga belum ada jaminan, selain komitmen, dalam pengelolaan dana sosial secara bertanggung jawab. Sementara itu adanya transparansi asal dana adalah cerminan sikap taqwa karena memiliki motivasi kebajikan, kesucian hati dan kemuliaan tujuan. Sikap ini jika dilakukan dengan ketulusan dan komitmen akan besar sekali dampaknya baik pada diri pribadi maupun kebajikan yang akan bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya kelalaian yang diperkuat sikap arogansi merupakan kekufuran yang akan menghilangkan kepercayaan dan manfaat dari aktivitas itu terhadap diri sendiri dan masyarakat sasaran. Dalam konteks itu filantropi dengan sikap hati-hati, merupakan dorongan terjadinya transformasi sikap seseorang dalam aktivitasnya berinteraksi dengan sesama manusia khususnya dalam berderma. Transformasi berarti sebuah perubahan dalam motif tindakan seseorang dan anggota masyarakat. Perubahan yang terarah seraya menawarkan jalan dan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial, dia dapat hidup dan berkembang hanya dalam kebersamaan dengan orang lain. Selain itu juga ajakan bagi setiap orang untuk berfikir, berkehendak, berperilaku, berperasaan untuk menjadi manusia yang utuh dan berkembang mencapai kepenuhannya. Menanamkan pola berfikir dengan akal sehat terhadap perubahan yang diinginkan bersama, bahwa kesalehan pribadi harus diganti dengan motif kesalehan sosial. |
“Menggalang Langkah Bersama” Menjawab Tuntutan LSM se-Sumatera
Satu dekade pasca reformasi posisi LSM sebagai salah satu komponen inti dalam masyarakat sipil masih belum membaik. Kepercayaan dan dukungan dari masyarakat terhadap LSM malah semakin menurun. I...
Garda Era Salurkan Bantuan Korban Gempa Di Koto Tangah
Turut dalam aksi peduli terhadap korban gempa, Garda Era menyalurkan paket bantuan berupa beras, mie, air mineral, perlengkapan mandi, dan perlengkapan tidur. Bantuan ini disalurkan di Kecamatan Koto ...
Cemara PKBI, Pusat Informasi dan Konseling Remaja
Persatuan Keluarga Berencana Indonesia atau yang disingkat menjadi PKBI merupakan sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi masyarakat. Sasarannya adalah semua lapisan usia masyarakat ba...
PAHAM Sumbar Kerahkan Relawan Untuk Korban Gempa
PAHAM Sumbar, secara kelembagaan, memang tidak melakukan aktivitas tanggap darurat, akan tetapi, relawan-relawan PAHAM banyak terlibat menjadi relawan kemanusiaan di berbagai organisasi yang ada, term...
YCM Bantu Korban Gempa
PADANG—Yayasan Citra Mandiri (YCM) menyalurkan bantuan korban bencana alam kepada mahasiswa dan para pelajar Mentawai yang sedang menuntut ilmu di Padang. Bantuan tersebut disalurkan pada ...
Scedei Salurkan Bantuan Uang Rp 50 Ribu Untuk Korban Gempa
Pasca gempa 30 September 2009 scedei telah banyak melakukan berbagai aktivitas tanggap darurat di antaranya mendirikan posko peduli korban gampo dan menyalurkan bantuan barang berupa sembako, tenda, s...
Euforia kebebasan pasca runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998 ditandai oleh menjamurnya beragam organisasi masyarakat sipil (civil society organizations) di Indonesia. LSM/Ornop sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil yang sebelumnya tidak begitu “diminati” - pasca tahun 1998 menjadi sebuah organisasi yang sangat populer, yang dalam kurun waktu sangat singkat berdiri dalam jumlah besar di Indonesia......
Pembusukan tersebut tidak hanya karena ulah orang-orang yang berada di luar LSM namun juga ulah LSM itu sendiri. Wajar kalau saat ini besar tekanan yang mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas LSM.
| Tentang Filantropi di KPMM |
| Donasi |
| Visits today: | 11 |
| Visits yesterday: | 20 |
| Visits month: | 199 |
| Visits total: | 85128 |