| Cerita dari wilayah bencana |
|
|
|
| Ditulis oleh Igusnovaldi | |
| Rabu, 29 Agustus 2007 | |
|
Disudut kampung terdapat Mushalla yang baru saja dibangun. Bangunan ini berukuran 6 kali 6 meter. Didalam ruangan terdapat 3 meja kecil yang dipergunakan untuk anak-anak mengaji. Pada salah satu pojok terdapat setumpuk kayu sisa dari bangunan mushalla. Lantai bangunan sudah dicor kasar dan diatas lantai diberi alas dengan tikar. Disinilah saya dan Fatiha berkumpul bersama 12 orang laki-laki yang merupakan anggota kelompok Kubang Setia. “Tempat ibadah ini kami bangun secara swadaya. Kami perlu tempat untuk beribadat dan berkumpul. Bangunan musahalla yang lama telah hancur ketika gempa terjadi 3 bulan yang lalu” Demikian salah seorang menceritakan kepada saya. “Di kampung ini terdapat 17 KK. Gempa yang terjadi 3 bulan silam mengakibatkan perekonomian kami lumpuh. Awalnya kami trauma untuk mengerjakan sawah karena fikiran kami terfokus pada bencana. Akibatnya sawah dan ladang kami terbengkalai. Untuk memulai usaha kembali kami kesulitan dana” Ketua kelompok memberi penjelasan sambil menarik napas panjang. Sambil menatap kosong kearah luar musahalla dia melanjutkan ceritanya “Ada beberapa bangunan yang runtuh sehingga masih ada keluarga sampai saat ini yang tidur di tenda. Kasihan anak-anak dan orang tua yang terpaksa tidur dalam kondisi cuaca dingin”. Saya dan Fatiha staf LP2M, hari itu Minggu 19 Juni 2007 sengaja hadir pada pertemuan kelompok. Kampung ini bernama kampung Kubang. Merupakan wilayah Jorong Haru Nagari Bunga Tanjuang kecamatan Batipuah Baruah. Jarak kampung dari kota Padang Panjang kira-kira 30 menit perjalanan naik sepeda motor. Sejak beberapa bulan ini fatiha rutin mendampingi beberapa kelompok. Ada 2 kelompok yang rutin dikunjunginya. Pertama kelompok Perempuan Anggara di wilayah Jorong Ateh Guguak, kedua kelompok kubang setia diwilayah Jorong haru. Ketiga kelompok Setangkai Bungo Tanjuang diwilayah Jorong Ateh guguak. Selain Fatiha LP2M juga menugaskan staf lain yaitu Desi yang mendampingi 1 kelompok diwilayah guguak nyariang yaitu kelompok Bungo Padi. “Beberapa lokasi yang lain seperti Kapuah dan gunuang rajo masih sedang kami jajaki untuk pembentukan kelompok” ungkap Fatiha. Untuk tahap awal ini kami turun dengan tim yang berjumlah 3 orang dan dibantu oleh 2 orang masyarakat lokal. Selama dilokasi kami membangun komunikasi dengan beberapa orang tokoh, pimpinan kampung dan masyarakat umum. Diskusi yang kami bangun seputar penggalian kondisi yang dialami oleh mereka. Dari hasil diskusi itu akhirnya kami bersama sepakat untuk membentuk kelompok.” Demikian penjelasan fatiha lebih lanjut. Ada 2 hal yang telah dilakukan oleh LP2M dilokasi. Pertama menyalurkan bantuan seperti sembako, selimut, tikar dan penerangan. Kedua adalah melakukan pengorganisasian masyarakat. Dari kegiatan pengambilan data dan kunjungan pasca gempa telah terbentuk 4 kelompok. Hal ini merupakan langkah awal dari LP2M untuk membangun kepercayaan masyarakat serta keyakinan dirinya untuk keluar dari masyalah yang dihadapinya. Bagaimana bapak-bapak, apakah masih ada yang akan kita tunggu ? Fatiha memulai pembicaraan memecahkan kebekuan saat itu. Sebaiknya kita tunggu beberapa menit lagi, karena sekretaris kelompok belum hadir? Bapak yang berbaju kotak-kotak dari sudut ruangan menanggapi. Tidak lama berselang datang seorang laki-laki setangah baya berdiri didepan pintu masuk sambil mengucapkan salam. Setelah berdiri sejenak, dia berjalan kearah ketua kelompok dan mengambil tempat disamping ketua. “Kami mengucapkan terimakasih atas kedatangan buk Fatiha hari ini. Dengan adanya dampingan yang ibuk berikan kepada kami, beban yang kami rasakan setelah gempa tempo hari sedikit berkurang” ujar salah seorang anggota. “Kami berharap pertemuan ini dapat rampung sehingga untuk rencana bantuan perekenomian anggota segera diturunkan” ketua kelompok menambahkan. “Saya setuju dengan pendapat bapak-bapak semua” Fatiha memberikan tanggapan. Pertemuan hari ini membahas tentang managemen kelompok. Membentuk system pengelolaan bantuan ditingkat kelompok, administrasi dan keuangan kelompok. Selain dari itu juga akan dibahas tentang aturan main antara kelompok dengan penyalur bantuan dan aturan main antara kelompok dan anggota kelompok. Selama 2 jam berdiskusi diperoleh kesepakatan yaitu: adanya kerjasama dengan LP2M dalam pengelolaan ternak kambing dan itik. Kelompok memfasilitasi anggotanya yang berminat mengelola ternak. Disepakati juga tentang cara pembelian, pengotrolan dan pengembalian ternak. Karena dana yang tersedia tidak mencukupi untuk seluruh anggota kelompok, untuk itu dibagun sistim perguliran bantuan. Ada 5 orang yang berminat untuk mengelola ternak kambing dan 3 orang yang berminat mengelola ternak itik. Selain bantuan ternak juga dibicarakan bantuan modal usaha. Pemberian modal usaha ini diperuntukan untuk usaha tani dan dagang. Untuk modal tani, cicilan dikembalikan setelah panen, sedangkan bantuan modal dagang dikembalikan per bulan. Yang berminat untuk modal usaha ada 2 anggota. “Pentingnya membangun kelompok dalam penyaluran bantuan adalah untuk menghindari terjadinya saling curiga dan cemburu social. Memang bantuan yang kami berikan tidak segera dan cepat. Perlu proses yang kami lakukan sehingga masyarakat mengetahui bentuk dan jenis bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya serta masyarakat mengetahui sumber bantuan yang kami berikan. Kami mendapatkan sumber dana dari Canada Fund. Diharapkan dari proses ini akan terbentuk masyarakat yang kritis dan mengerti kesulitannya serta mengetahui bagaimana memecahkan masalah yang dihadapinya”. Demikian penjelasan Fatiha pada akhir acara kepada saya. Selesai pertemuan, kami berkunjung kewilayah Nagari Bungo Tanjuan tepatnya di jorong koto. Sekitar 1 ½ jam berkendaraan dengan sepeda motor kami sampai di lokasi. Hari itu bahan bangunan yang dijanjikan untuk kelompok Perempuan Anggara wilayah Ateh Guguak. Terlihat dari kejauhan beberapa orang menurunkan barang dari mobil truk. Sementara itu beberapa orang lagi memperhatikan dari pinggir jalan. Fatiha menuju mobil dan mulai mengkoordinir pendistribusian bahan. Penerima bantuan bahan bangunan ada 4 KK. Hal ini merupakan hasil kesepakatan kelompok. Mereka menerima bantuan dengan syarat bahwa sudah ada swadya terlebih dahulu. Kesanggupan tersebut dalam hal upah tukang atau membangun sendiri dan menyediakan beberapa material seperti kayu. Sedangkan untuk seng, paku dan triplek disediakan oleh LP2M. Untuk masing-masing KK mereka mendapat 2 kodi seng, 10 lembar triplek dan 1 kilo paku seng serta 3 kilo paku kayu. Fatiha menjelaskan pentingnya informasi sumber bantuan dan proses pendistribusian. Dokumentasi merupakan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat dan donatur. Untuk pelengkap dokumentasi masyarakat penerima bantuan juga membubuhkan tanda tangan untuk laporan kepada penyandang dana. “buk, tolong sampaikan terimakasih kami kepada penyumbang dana atas bantuan yang telah diberikannya kepada kami” kata seorang penerima bantuan. “Akan kami sampaikan Pak” jawab Fatiha. “Mungkin suatu saat donator dari Canada Fand itu akan datang kesini untuk melihat hasil bantuan yang telah diberikanya”, jawab Fatiha sambil tersenyum. |
“Menggalang Langkah Bersama” Menjawab Tuntutan LSM se-Sumatera
Satu dekade pasca reformasi posisi LSM sebagai salah satu komponen inti dalam masyarakat sipil masih belum membaik. Kepercayaan dan dukungan dari masyarakat terhadap LSM malah semakin menurun. I...
Garda Era Salurkan Bantuan Korban Gempa Di Koto Tangah
Turut dalam aksi peduli terhadap korban gempa, Garda Era menyalurkan paket bantuan berupa beras, mie, air mineral, perlengkapan mandi, dan perlengkapan tidur. Bantuan ini disalurkan di Kecamatan Koto ...
Cemara PKBI, Pusat Informasi dan Konseling Remaja
Persatuan Keluarga Berencana Indonesia atau yang disingkat menjadi PKBI merupakan sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi masyarakat. Sasarannya adalah semua lapisan usia masyarakat ba...
PAHAM Sumbar Kerahkan Relawan Untuk Korban Gempa
PAHAM Sumbar, secara kelembagaan, memang tidak melakukan aktivitas tanggap darurat, akan tetapi, relawan-relawan PAHAM banyak terlibat menjadi relawan kemanusiaan di berbagai organisasi yang ada, term...
YCM Bantu Korban Gempa
PADANG—Yayasan Citra Mandiri (YCM) menyalurkan bantuan korban bencana alam kepada mahasiswa dan para pelajar Mentawai yang sedang menuntut ilmu di Padang. Bantuan tersebut disalurkan pada ...
Scedei Salurkan Bantuan Uang Rp 50 Ribu Untuk Korban Gempa
Pasca gempa 30 September 2009 scedei telah banyak melakukan berbagai aktivitas tanggap darurat di antaranya mendirikan posko peduli korban gampo dan menyalurkan bantuan barang berupa sembako, tenda, s...
Euforia kebebasan pasca runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998 ditandai oleh menjamurnya beragam organisasi masyarakat sipil (civil society organizations) di Indonesia. LSM/Ornop sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil yang sebelumnya tidak begitu “diminati” - pasca tahun 1998 menjadi sebuah organisasi yang sangat populer, yang dalam kurun waktu sangat singkat berdiri dalam jumlah besar di Indonesia......
Pembusukan tersebut tidak hanya karena ulah orang-orang yang berada di luar LSM namun juga ulah LSM itu sendiri. Wajar kalau saat ini besar tekanan yang mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas LSM.
| Tentang Filantropi di KPMM |
| Donasi |
| Visits today: | 14 |
| Visits yesterday: | 26 |
| Visits month: | 142 |
| Visits total: | 85071 |