| GALANG FILANTROPI DAN KEBERLANJUTAN ORGANISASI |
|
|
|
| Ditulis oleh IRDAM HURI - INSDEPS Sumatera Barat | |
| Jumat, 14 Juli 2006 | |
|
Munculnya istilah baru yaitu “Filantropi”, sepertinya menginggatkan kembali nilai-nilai sosial dalam pembangunan. Selanjutnya, nilai-nilai kedermawanan dan kesetiakawanan dirangkai dalam istilah asing yang lebih familiar. Kata philanthropy yang berasal dari bahasa Yunani dengan makna yaitu phillen berarti mencintai (to love) dan anthropos (manusia, human kind), sehingga philantrophy dapat diartikan sebagai ungkapan cinta kasih kepada sesama manusia. Untuk itu kata kedermawanan, kesetiakawanan dan Filantropi memiliki esensi yang sama.
Philanthropy didefinisikan sebagai cara membantu sesama dimana “saling memberi perhatian dan saling membagi” adalah esensi utamanya (Seregar dalam Irdam : 2006). Tujuan itu dicapai melalui pengembangan perhatian dan kepekaan pada orang lain, membuat orang peduli pada kebutuhan sesamanya di dalam suatu komunitas, dan mewujudkan perhatian dan kepedulian itu melalui tindakan berusaha menjawab kebutuhan mereka. Philanthropy dapat ditempatkan sebagai sebuah proses, dimana ada tindakan (action) memberi bantuan uang atau bentuk lain kepada seseorang secara sukarela tanpa unsur paksaan dan tekanan (volunteerism). Kesukarelaan dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang memberi manfaat bagi orang lain. Kepedulian dan kamauan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berderma kepada lembaga-lembaga nir laba akan memberi banyak manfaat keberlanjutan misi dan program lembaga tersebut.
MEMBANGUN KEMBALI IMAGE MASYARAKAT Keinginan seseorang atau masyarakat berderma, bermurah hati untuk berbagi pada seseorang, kelompok dan organisasi sangat dipengaruhi oleh citra atau pandangan yang melekat pada lembaga tersebut. Orang tidak akan mau berderma apabila ia melihat bahwa dana yang diberikannya tidak sampai pada apa yang telah diniatkan. Selain itu bantuan yang diberikan harus dikelola se arif mungkin dan dapat berdaya guna terhadap sasaran yang diinginkan si penderma. Sebenarnya potensi masyarakat Indonesia untuk berderma cukup besar misalkan pada umat Islam, potensi umat Islam untuk zakat infak dan sedekah (ZIS) mencapai 3 trilyun setiap tahunya (Dr. Mustafa E Nasution ; 2001). Dana tersebut cukup mengatasi persoalan kemiskinan di Indonesia. Namun pengelolaan ZIS tersebut jauh dari harapan kita. Persoalan yang mengemukan seputar pengelolaan dana kedermawanan sosial (Filantropi) tersebut adalah image masyarakat yang muncul bahwa lembaga pengelolaannya belum profisional, kridible dan transparan. Akhir-akhir ini keberadaan lembaga nir laba, LSM/ORNOP mendapat sorotan dan penilaian oleh berbagai komponen masyarakat terhadap aktivitas yang mereka kerjakan. Pada awalnya masyarakat dan pelaku pembangunan memandang bahwa lembaga nir laba memiliki idelisme, integritas dan dedikasi yang tinggi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Namun citra baik tersebut dirusak dan diganggu oleh tindakan para aktivis dan pegiat lembaga nir-laba yang ingin mendapatkan keuntungan sesaat (intans) dengan mengorbankan prinsip kepatutan sosial dan hukum. Belajar dari beberapa kasus penyimpangan pengelolaan dana yang melibatkan anggota KPU (Muliana W Kusuma) dan pengelolaan bantuan kemanusian Tsunami oleh LSM/ORNOP GOA (Fariq Faqih) yang ditayangkan TV telah mencoreng lembaga nir laba lainnya. Sedangkan di tingkat daerah (lokal) juga terjadi hal serupa dan konflik internal yang membuat citra dan kesunguhan hati lembaga nir laba memperjuangkan kepentingan kaum marjinal di pertanyakan oleh masyarakat. Kondisi diatas jelas akan menyulitkan para pegiat LSM/ORNOP yang memiliki niat kesunguhan hati memperjuangkan dan mengangkat harkat martabat kaum marjinal sulit masuk ke masyarakat karena image atau Streo type terhadap tindakan-tindakan tabu yang semestinya tidak perlu terjadi. Bila kondisi ini tidak segera diperbaiki oleh para pegiat LSM/ORNOP, mustahil akan dapat menggalang dana kedermawanan sosial (Filantropi) masyarakat yang sesungguhnya memiliki tradisi berderma yang kuat. STRATEGI PENGGALAGAN FILANTROPI BAGI LSM Keberlanjutan sebuah lembaga sangat dipengaruhi oleh tersedia sumber dana yang cukup untuk membiayai kebutuhan opersional dan program yang dirancang. Fakta menunjukan bahwa tidak ada satupun lembaga yang dapat bertahan menjalan aktifitas dan programnya bila tidak didukung oleh sumber dana yang kuat. Disadari bahwa masalah yang amat pelik bagi sebagian besar LSM/ORNOP adalah ketersedian dana yang dalam menjalankan programnya. Kita sering mendengar banyak LSM hilang begitu saja atau mati suri ketika lembaga donor luar negeri menghentikan bantuan dananya. Penggalangan dana (fundraising) melalui filantropi masyarakat merupakan solusi dalam mengatasi krisis keuangan di lembaga nir-laba LSM/ORNOP selain mengefektifkan fundraising unit-unit usaha yang dimiliki. Oleh karena itu para pegiat LSM/ORNOP perlu mensiasati kedepan bagaimana upaya menggalang dana melalui filantropi masyarakat, sehingga ketergangtungan pada lembaga donor luar negari menjadi berkurang, kapan perlu tidak ada. Menurut penulis ada 4 strategi kiat menggalang dana filantropi masyarakat yang dapat di terapkan pada lembag nir-laba LSM/ORNOP sebagai berikut :
1. Membangun community Awareness melalui berbagai media komunikasi dengan memberikan beberapa contoh best practice filantropy yang telah mengubah kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat dari kondisi yang memprihatinkan (sensara) kearah yang hidup lebih baik (lebih manusiawi). Cara ini dipandang cukup efektif dalam mengugah dan menyadarkan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berderma.
2. Membangun Citra lembaga melalui peningkatan sumber daya manusia dan pengelolaan dana yang dapat dipertanggunjawaban, trasparan dan, accountable serta dana filantropi berdaya guna bagi penerima manfaat (beneficiaries). Masyarakat yang sudah berderma akan merasa puas dan berkesan bahwa niat untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung sudah tercapai.
3. Membangun Konsistensi sebagai lembaga yang indenpenden, objektif dan netralitas serta profisional dalam menjalankan program-programnya. Biasanya sipenderma atau masyarakat akan melihat lembaga konsistensi dalam menjalankan visi dan misi, lembaga yang latah dengan berbagai kegiatan akan ditinggalkan oleh masyarakat karena dianggap opportunies.
Keberlanjutan organisasi sosial masyarakat sipil LSM/ORNOP sangat bergantung dengan sumber dana yang dimiliki dalam menjalan visi dan misinya. Saat ini mari kita mencoba menggalang sumber dana domistik yang belum kita memanfaatkannya secara optimal. Salah satunya sumber domestik tersebut adalah dana kedermawanan sosial (filanmtropi) masyarakat, karena pada prinsipnya tradisi berderma amat kental dalam praktek setiap agama yang ada di Indonesia. Namun upaya mencapai tersebut perlu ditempuh dengan strategi yang telah dijelaskan diatas. |
“Menggalang Langkah Bersama” Menjawab Tuntutan LSM se-Sumatera
Satu dekade pasca reformasi posisi LSM sebagai salah satu komponen inti dalam masyarakat sipil masih belum membaik. Kepercayaan dan dukungan dari masyarakat terhadap LSM malah semakin menurun. I...
Garda Era Salurkan Bantuan Korban Gempa Di Koto Tangah
Turut dalam aksi peduli terhadap korban gempa, Garda Era menyalurkan paket bantuan berupa beras, mie, air mineral, perlengkapan mandi, dan perlengkapan tidur. Bantuan ini disalurkan di Kecamatan Koto ...
Cemara PKBI, Pusat Informasi dan Konseling Remaja
Persatuan Keluarga Berencana Indonesia atau yang disingkat menjadi PKBI merupakan sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi masyarakat. Sasarannya adalah semua lapisan usia masyarakat ba...
PAHAM Sumbar Kerahkan Relawan Untuk Korban Gempa
PAHAM Sumbar, secara kelembagaan, memang tidak melakukan aktivitas tanggap darurat, akan tetapi, relawan-relawan PAHAM banyak terlibat menjadi relawan kemanusiaan di berbagai organisasi yang ada, term...
YCM Bantu Korban Gempa
PADANG—Yayasan Citra Mandiri (YCM) menyalurkan bantuan korban bencana alam kepada mahasiswa dan para pelajar Mentawai yang sedang menuntut ilmu di Padang. Bantuan tersebut disalurkan pada ...
Scedei Salurkan Bantuan Uang Rp 50 Ribu Untuk Korban Gempa
Pasca gempa 30 September 2009 scedei telah banyak melakukan berbagai aktivitas tanggap darurat di antaranya mendirikan posko peduli korban gampo dan menyalurkan bantuan barang berupa sembako, tenda, s...
Euforia kebebasan pasca runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998 ditandai oleh menjamurnya beragam organisasi masyarakat sipil (civil society organizations) di Indonesia. LSM/Ornop sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil yang sebelumnya tidak begitu “diminati” - pasca tahun 1998 menjadi sebuah organisasi yang sangat populer, yang dalam kurun waktu sangat singkat berdiri dalam jumlah besar di Indonesia......
Pembusukan tersebut tidak hanya karena ulah orang-orang yang berada di luar LSM namun juga ulah LSM itu sendiri. Wajar kalau saat ini besar tekanan yang mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas LSM.
| Tentang Filantropi di KPMM |
| Donasi |
| Visits today: | 14 |
| Visits yesterday: | 26 |
| Visits month: | 142 |
| Visits total: | 85071 |