| Tidak Baik, Ketergantungan LSM pada Pihak Asing |
|
|
|
| Written by Kompas | |
| Kamis, 26 April 2007 | |
|
Jakarta, Kompas - Saat ini banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Indonesia yang pendanaannya masih bergantung pada pihak asing. LSM tersebut sangat sulit melepaskan diri dari bantuan lembaga donor. Ketergantungan LSM pada pihak asing tersebut tidak baik jika berlangsung secara terus-menerus dan permanen.
"Untuk melepaskan diri dari donor agency atau bantuan asing adalah hal yang sulit. Karena itu, kita harus memikirkan penggalangan dana publik. Namun, di Indonesia ini ternyata lebih mudah membuat proposal ke donor agency daripada bersusah payah meyakinkan masyarakat untuk mau menyumbang," kata Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Riswan Lapagu, dalam diskusi bertema "Dana Asing bagi LSM: Manfaat atau Mudharat?" di Jakarta, Kamis. Pada transisi era Orde Baru ke era reformasi sekarang ini, LSM di Indonesia tumbuh bak cendawan di musim hujan. Hingga tahun 2002 jumlah LSM di Indonesia yang tercatat di Departemen Dalam Negeri mencapai angka 13.500 LSM. Angka tersebut belum termasuk LSM yang tidak tercatat. Dari jumlah tersebut, 90 persen LSM yang ada di Indonesia didanai pihak asing. Menurut Riswan Lapagu, ketergantungan LSM pada pihak asing tidak baik jika berlangsung terus-menerus dan permanen. Ketergantungan ini tidak hanya dapat mengubah style LSM, akan tetapi, juga bisa mengubah paradigma dan orientasi, bahkan mungkin juga ideologi perjuangan LSM. Ia mencontohkan betapa kini YLBHI mengalami kesulitan pendanaan yang luar biasa setelah enam tahun bergantung pada pihak asing. Sejak 1994 YLBHI mendapat bantuan dana dari luar negeri, khususnya dari Belanda (Novib), Belgia, dan Kanada. Bantuan itu digunakan untuk operasional YLBHI setiap bulan minimal Rp 900 juta untuk overhead dan operasionalisasi program. Setahun YLBHI membutuhkan dana lebih kurang Rp 10 Milyar. Kini setelah YLBHI tidak menerima bantuan terutama dari Novib, YLBHI kemudian mengalami kesulitan untuk membayar gaji para karyawan dan operasionalisasi program. Karena itu, mulai diupayakan penggalangan dana publik. Namun, ternyata tidak mudah menggalang dana publik, sebab publik pun pasti menuntut akuntabilitas dan transparansi pembukuan.Ironinya, LSM yang memposisikan diri untuk menjalankan fungsi kontrol terhadap lembaga pemerintahan, namun selama ini tidak ada mekanisme kontrol publik atas pembukuan LSM itu sendiri.(lok) |
“Menggalang Langkah Bersama” Menjawab Tuntutan LSM se-Sumatera
Satu dekade pasca reformasi posisi LSM sebagai salah satu komponen inti dalam masyarakat sipil masih belum membaik. Kepercayaan dan dukungan dari masyarakat terhadap LSM malah semakin menurun. I...
Garda Era Salurkan Bantuan Korban Gempa Di Koto Tangah
Turut dalam aksi peduli terhadap korban gempa, Garda Era menyalurkan paket bantuan berupa beras, mie, air mineral, perlengkapan mandi, dan perlengkapan tidur. Bantuan ini disalurkan di Kecamatan Koto ...
Cemara PKBI, Pusat Informasi dan Konseling Remaja
Persatuan Keluarga Berencana Indonesia atau yang disingkat menjadi PKBI merupakan sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi masyarakat. Sasarannya adalah semua lapisan usia masyarakat ba...
PAHAM Sumbar Kerahkan Relawan Untuk Korban Gempa
PAHAM Sumbar, secara kelembagaan, memang tidak melakukan aktivitas tanggap darurat, akan tetapi, relawan-relawan PAHAM banyak terlibat menjadi relawan kemanusiaan di berbagai organisasi yang ada, term...
YCM Bantu Korban Gempa
PADANG—Yayasan Citra Mandiri (YCM) menyalurkan bantuan korban bencana alam kepada mahasiswa dan para pelajar Mentawai yang sedang menuntut ilmu di Padang. Bantuan tersebut disalurkan pada ...
Scedei Salurkan Bantuan Uang Rp 50 Ribu Untuk Korban Gempa
Pasca gempa 30 September 2009 scedei telah banyak melakukan berbagai aktivitas tanggap darurat di antaranya mendirikan posko peduli korban gampo dan menyalurkan bantuan barang berupa sembako, tenda, s...

The freedom euphoria after the Soeharto’s fall in 1998 was signed by an increasing number of civil society organizations in Indonesia. The reason for this was that a lot of organizations had not been popular before the fall, but after became very popular. In a short time these organizations grew in a large amount throughout Indonesia...
| Tentang Filantropi di KPMM |
| Donasi |
| Visits today: | 14 |
| Visits yesterday: | 26 |
| Visits month: | 142 |
| Visits total: | 85071 |