| Diskusi Adat "Segitiga Vital" di Dampingan TOTALITAS |
|
|
|
| Ditulis oleh Muthia Ulfah (Totalitas) | |
| Rabu, 04 Oktober 2006 | |
|
Diskusi adat merupakan salah satu bentuk pendekatan masyarakat yang digunakan oleh Yayasan Totalitas dalam Program Keseimbangan Gizi Dan Kontribusi Keluarga Via Ternak Lokal (SEGITIGA VITAL). “Diskusi adat adalah terobosan baru yang belum pernah ada sebelumnya di lembaga-lembaga manapun, kecuali di Totalitas. Diskusi adat ini mencerminkan nilai yang diemban Totalitas, yaitu pemberdayaan masyarakat, dimana masyarakat tidak hanya dijadikan penonton atau obyek melainkan sebagai subyek. Hal ini nantinya akan berkaitan dengan dampak program terhadap masyarakat secara umum,” jelas Yose Rizal, S.Sos, Direktur Totalitas. Selanjutnya beliau mengungkapkan bahwa yang membedakan antara diskusi adat dengan diskusi lainnya adalah peserta diskusi dan etika diskusi. Dalam diskusi adat dihadirkan para ninik mamak, datuk, dan pemuka adat lainnya serta tokoh masyarakat. Di sini masyarakat umum tidak dihadirkan karena telah terwakilkan oleh pemuka-pemuka tersebut. Diskusi adat membahas aturan adat, nilai lokal, pembangunan daerah serta hal-hal lainnya yang menyangkut wilayah adapt atau masyarakat adat. Selajutkanya, yang menjadikan diskusi adat istimewa adalah etikanya. Sebelum diskusi adat dimulai, diadakan acara makan bersama, ramah tamah, dan senda gurau. Semua berjalan sesuai dengan adat setempat. Pertemuan ini sangat dihormati sehingga keputusan yang diperoleh nantinya bersifat mengikat. Karena ini menyangkut wibawa pemuka adat di hadapan anak-kemenakan dan masyarakat secara umum. Diskusi adat adalah kegiatan pertemuan rutin yang dihadiri oleh para ninik mamak, datuk dan tokoh masyarakat lainnya. Diskusi ini diadakan setiap tiga bulan sekali yang mana kali ini jatuh pada tanggal 4 Agustus 2006 di Jorong Lurah Bukit. Tempatnya adalah di Kantor Jorong. Adapun pembahasan pada pertemuan 4 Agustus lalu adalah untuk menindaklanjuti hasil dari pertemuan sebelumnya, yaitu tanggal 14 April 2006, yang telah menghasilkan kesepakatan bahwa ninik mamak, datuk, dan tokoh masyarakat bersedia mendukung kegiatan penanaman pohon karet yang akan dilakukan oleh Kelompok Tani Sakato dan fasilitator lapangan Totalitas di Jorong Lurah Bukit. Namun, kesepakatan ini baru sebatas wacana, belum lagi sampai kepada bentuk atau teknis dukungan tersebut. Sehingga dipandang perlu adanya penegasan mengenai bentuk dan teknis dukungan tersebut. “Pada diskusi adat 4 agustus 2006 diperoleh kesepakatan untuk membuat bukti hitam di atas putih mengenai penyerahan lahan oleh ninik mamak atau pemuka adat lainnya untuk digunakan dalam program ini,” ungkap Asep, wakil Totalitas yang hadir ketika itu. Selanjutnya ia menerangkan prosesi diskusi adat yang telah berlangsung. Diskusi adat yang dilakukan di kantor jorong diawali dengan makan bersama dan temu ramah yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat. Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari seorang wakil dari Totalitas dan Penghulu Pucuk sebagai perwakilan dari pemuka adat. Setelah itu dimulai pembicaraan inti. Selain membicarakan tentang penyedian lahan, peserta diskusi juga membahas tentang pengadaan bibit karet yang akan ditanam di lahan tersebut, siapa yang bertanggung jawab dengan penanaman dan perawatannya, serta pembagian hasil yang diperoleh nantinya. Adapun hasil pertemuan tersebut secara keseluruhan adalah: 1) Para pemuka adat sepakat untuk menyerahkan tanahnya/tanah kaumnya disertai dengan bukti tertulis hitam di atas putihnya; 2) Bibit karet diperoleh dari swadaya peserta yang hadir pada saat itu, diantaranya ada yang bersedia menyumbang 50 batang, 30 batang dan 6 batang dari setiap anggota kelompok tani; 3) Penanaman akan dilakukan secara bersama-sama oleh kelompok tani dengan melibatkan masyarakat secara umum sebagai partisipan dan bahkan rencananya akan diundang Wakil Bupati 50 Kota; 4) Perawatan dilakukan secara bersama-sama juga dan akan diadakan pembicaraan lebih lanjut di tingkat kelompok tani dan masyarakat mengenai teknisnya; 5) Hasil dari tanaman karet nantinya akan dibagi menjadi 50% untuk kelompok tani dan 50% lagi untuk pembangunan jorong. Hasil ini merupakan kesepakatan peserta rapat secara keseluruhan. “Hasil ini menandakan adanya dukungan yang besar dari masyarakat dan pemukanya terhadap program yang sedang dijalankan Totalitas saat ini. Dan hasil ini benar-benar menakjubkan,” tambah Asep mengakhiri wawancara. |
“Menggalang Langkah Bersama” Menjawab Tuntutan LSM se-Sumatera
Satu dekade pasca reformasi posisi LSM sebagai salah satu komponen inti dalam masyarakat sipil masih belum membaik. Kepercayaan dan dukungan dari masyarakat terhadap LSM malah semakin menurun. I...
Garda Era Salurkan Bantuan Korban Gempa Di Koto Tangah
Turut dalam aksi peduli terhadap korban gempa, Garda Era menyalurkan paket bantuan berupa beras, mie, air mineral, perlengkapan mandi, dan perlengkapan tidur. Bantuan ini disalurkan di Kecamatan Koto ...
Cemara PKBI, Pusat Informasi dan Konseling Remaja
Persatuan Keluarga Berencana Indonesia atau yang disingkat menjadi PKBI merupakan sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi masyarakat. Sasarannya adalah semua lapisan usia masyarakat ba...
PAHAM Sumbar Kerahkan Relawan Untuk Korban Gempa
PAHAM Sumbar, secara kelembagaan, memang tidak melakukan aktivitas tanggap darurat, akan tetapi, relawan-relawan PAHAM banyak terlibat menjadi relawan kemanusiaan di berbagai organisasi yang ada, term...
YCM Bantu Korban Gempa
PADANG—Yayasan Citra Mandiri (YCM) menyalurkan bantuan korban bencana alam kepada mahasiswa dan para pelajar Mentawai yang sedang menuntut ilmu di Padang. Bantuan tersebut disalurkan pada ...
Scedei Salurkan Bantuan Uang Rp 50 Ribu Untuk Korban Gempa
Pasca gempa 30 September 2009 scedei telah banyak melakukan berbagai aktivitas tanggap darurat di antaranya mendirikan posko peduli korban gampo dan menyalurkan bantuan barang berupa sembako, tenda, s...
Euforia kebebasan pasca runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998 ditandai oleh menjamurnya beragam organisasi masyarakat sipil (civil society organizations) di Indonesia. LSM/Ornop sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil yang sebelumnya tidak begitu “diminati” - pasca tahun 1998 menjadi sebuah organisasi yang sangat populer, yang dalam kurun waktu sangat singkat berdiri dalam jumlah besar di Indonesia......
Pembusukan tersebut tidak hanya karena ulah orang-orang yang berada di luar LSM namun juga ulah LSM itu sendiri. Wajar kalau saat ini besar tekanan yang mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas LSM.
| Tentang Filantropi di KPMM |
| Donasi |
| Visits today: | 11 |
| Visits yesterday: | 20 |
| Visits month: | 199 |
| Visits total: | 85128 |